Ciputat, BERITA FIKES Online– Peningkatan orang terpapar COVID-19 di Indonesia masih berada di angka yang tinggi. Pemerintah sudah melakukan upaya untuk mencegah angka kematian yang lebih tinggi akibat Covid-19 dengan mengimpor vaksin.

Menyikapi hal tersebut, Rektor UIN Jakarta Prof Dr Amany Lubis Lc MA mengatakan bahwa UIN Jakarta siap menjadi contoh terdepan bagi masyarakat untuk melakukan vaksinasi Covid-19.

“Tidak perlu lagi khawatir untuk melakukan vaksinasi sebab Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) nomor 2 Tahun 2021 tentang vaksin Covid-19 produk Sinovac ini telah dinyatakan halal. Mari kita lakukan vaksinasi dengan rela hati dan gembira,” ujar Amany.

Hal tersebut disampaikan beliau saat menjadi keynote speech pada acara Webinar bertajuk “Takut Vaksin COVID-19? Yuk, Kenali Lebih Dekat!” yang diselenggarakan Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) bersama Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) UIN Jakarta, Kamis (4/3/2021).

Sementara Dekan FIKES Dr apt Zilhadia MSi dalam sambutannya mengatakan pelaksanaan webinar ini dikelola oleh CPNS Dosen FIKES yang berjumlah enam orang, termasuk yang menjadi narasumber.

“Kami berikan kesempatan kepada mereka agar mereka dapat melakukan akselerasi dengan kondisi di FIKES UIN Jakarta,” ujar Zilhadia.

Dengan kegiatan ini, lanjutnya, diharapkan dapat semakin menguatkan sivitas akademik UIN Jakarta untuk siap divaksin dengan mengenal lebih dekat pemberian vaksinasi ini.

“Semoga dengan acara ini, kita dapat mengedukasi masyarakat agar program pemerintah ini dapat berjalan dengan baik,” imbuhnya.

Didapuk sebagai narasumber Dosen Prodi Farmasi apt Mita Restinia MFarm yang menjelaskan vaksinasi Covid-19 agar masyarakat tidak perlu takut dan ragu untuk diberikan vaksin

“Covid-19 merupakan nama penyakit yang disebabkan oleh virus SARS-CoV-2,” ujar Mita memulai pemaparannya.

Gejala yang dirasakan pun tidak langsung muncul begitu saja, sambungnya. Terkadang lima hari setelah terpapar Covid-19, kata Mita, penderita baru dapat merasakan gejalanya. Namun, kasus ini tergantung pada imunitas tubuh manusia. Beberapa orang dengan imunitas yang kuat dapat melawan virus tersebut.

Ditambahkannya, orang yang sangat berisiko terpapar Covid-19 adalah yang memiliki penyakit kormobiditas (penyakit bawaan), seperti hipertensi, diabetes, dan sebagainya.

Mita Restinia juga menyampaikan, kasus yang terus bertambah hingga meningkatnya angka kematian di Indonesia menjadi alasan penggunaan vaksin perlu dilakukan secara menyeluruh. Ini dilakukan untuk meningkatkan kekebalan kelompok (herd immunity) yang nantinya dapat melindungi masyarakat.

“Jika sudah terbentuk herd immunity, maka orang-orang tadi yang tidak bisa divaksin (ibu hamil, pasien HIV, bayi, dan sebagainya) akan terlindungi, karena sudah tidak terjadi pandemi”, imbuhnya.

Tak perlu dikhawatirkan, vaksin ini sudah melalui tahap pra-klinis hingga uji klinis dengan proses yang cukup panjang sehingga dapat kita pahami bahwa vaksinasi ini aman.

Untuk melakukan vaksinasi, sambungnya, dilakukan screening terlebih dahulu dengan syarat dan ketentuan yang ada. Kemudian dilakukan pemberian vaksin kembali setelah 14 hari setelah vaksinasi pertama.

Mita mengutip, Menteri Kesehatan RI mengatakan efek dari vaksin ini 95% merupakan efek samping ringan dan sembuh dengan sendirinya. Setelah divaksin, Mita mengingatkan, protokol kesehatan 5M tetap harus dijalankan.

“Kita harus terus menjaga protokol kesehatan sehingga Indonesia akan berhasil memutus mata rantai Covid-19,” pungkasnya. (Tim Jurnalis Fikes)