Ciputat, BERITA FIKES Online– Pemberitaan hoax di media sosial tentang Covid-19 tercatat mengalami kenaikan hingga 39%. Marak berita yang lalu lalang tidak sesuai dengan fakta. Oleh sebab itu masyarakat harus bisa menyaringnya.

Hal ini menjadi pembahasan pada seminar Profesi Promosi Kesehatan 2020 bertema ‘Strategi Kesehatan dalam Memerangi Misinformasi Covid-19 di Era 4.0’ yang digelar Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) UIN Jakarta melalui live zoom meeting pada Selasa (17/11/2020).

Sekitar 500 peserta mengikuti webinar ini dengan narasum­ber Direktur Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik Kominfo RI Prof Dr Widodo Muktiyo, Ditjen Promkes Kemenkes RI Andi Sari Bunga Untung serta pembicara kompeten lainnya.

Seminar dimulai pada pukul 08.00 WIB dibuka Dekan FIKES UIN Jakarta Dr Zilhadia MSi Apt.

Menurut Widodo, total populasi peng­guna Internet mencapai 272.1 juta jiwa, dengan pemakaian ponsel sebanyak 338.2 juta, dan pengguna internet hingga 175,4 juta. Hal ini dapat disimpulkan bahwa lebih dari setengah popu­lasi pengguna internet lebih dari 50%.

“Penggunaan internet yang sangat tinggi ini membuat kita harus banyak berhati-hati dalam memilih berita yang tersebar di dunia maya, bisa saja berita yang kita dapat tidak benar adanya,oleh sebab itu jangan mudah percaya apalagi di era sekarang ini harus memilih ber­ita dan dicek terlebih dahulu apa benar berita tersebut valid adanya,” ungkapnya.

Narasumber lainnya, Andi Sari Bunga Untung mema­parkan tentang pentingnya protokol kesehatan. Menurut­nya, banyaknya masyarakat Indonesia yang masih kurang dalam mempraktekkan cuci tan­gan.

“Praktik cuci tangan di Indonesia masih sangat rendah, masih 50,2% kemudian di saat seperti ini masih banyaknya orang yang melakukan per­jalanan entah keluar negeri atau dalam negeri sekalipun, ini mendorong proses transmisi yang sangat hebat,” ujarnya.

Dia menjelaskan, kondisi tersebut dapat diperberat den­gan keadaan sosial yang tidak mempercayai bahwa Covid-19 itu memang ada, serta kurangnya kesadaran diri untuk melakukan praktek isolasi atau karantina.

Andi Sari menerangkan, ada 3 tujuan utama yang in­gin dicapai dalam melakukan strategi tersebut, dengan cara persebaran info yang cepat dan tepat yang diharapkan dapat mendorong perubahan perilaku individu, kemudian di­harapkan memberikan respons atas informasi tersebut.

“Namun yang paling penting dibalik semua itu adalah adanya komunikasi masyarakat, peran serta masyarakat dan juga ter­dapat banyak kapasitas entah itu posyandu, puskesmas atau ru­mah sakit dan juga adanya keter­libatan pemangku kepentingan, dan yang paling penting ialah penggunaan masker yang tepat, dan jaga jarak,” paparnya.

Dia menambahkan, saluran komunikasi juga menjadi hal paling penting dalam penyeba­ran informasi saat ini dengan adanya media sosial sangat membantu dalam penyebaran, namun juga harus berhati-hati dalam memilih berita.

Pemateri lainnya yakni, Far­id Hamzens, salah satu dosen prodi Kesmas UIN Jakarta, yang memberikan materi tentang pentingnya peran mahasiswa dalam memerangi hoax tentang Covid-19.

Dia berharap bahwa peran mahasiswa sebagai alat untuk menjembatani segala ber­ita yang keluar masuk di media sosial saat ini, dapat membantu mengurangi kabar hoax. (mg4/Nathania Dewi)

Sumber: Tangsel Pos, Rabu, 18 Nopember 2020. (mf)