Ciputat, Berita Fikes Online,- Peminatan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) telah selesai menyelenggarakan Seminar Pengembangan Profesi (Semprof) Keselamatan dan Kesehatan Kerja UIN Jakarta 2022 pada tanggal 22 November 2022. Semprof K3 kali ini mengusung tema “POWERS : Protecting Worker’s Health From Sick Building Syndrome by Controlling Indoor Air Quality”. Dalam seminar ini, Panitia Semprof K3 mengundang Kementerian Ketenagakerjaan sebagai keynote speaker serta 3 narasumber yang berkompeten di bidang K3 dalam hal Sick Building Syndrome dan manajemen kualitas udara dalam ruangan.

Sambutan diberikan oleh Dr. Apt. Zilhadia, M.Si selaku Dekan Fikes UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan juga oleh Catur Rosidati, M.K.M yang merupakan Ketua Program Studi Kesehatan Masyarakat UIN Syarif Hidayatullah Jakarta sekaligus membuka acara Semprof K3 2022. Dalam sambutannya juga disampaikan bahwa diharapkan Semprof ini bukan hanya sebagai penggugur kewajiban bagi mahasiswa saja namun dapat menjadi suatu pembelajaran dan penambahan wawasan bagi mahasiswa dan seluruh peserta seminar terkait topik yang diangkat.

Keynote speaker disampaikan oleh Drs. Muhammad Idham, M.K.K.K. selaku Direktur Bina Pengujian K3 Kementerian Ketenagakerjaan RI. Beliau menyampaikan bahwa manajemen kualitas udara dalam ruangan merupakan tanggung jawab semua orang yang bekerja di dalam bangunan tersebut, tidak hanya oleh manajemen perusahaan. Selain itu, beliau juga menyampaikan bahwa banyak faktor risiko yang dapat mempengaruhi terjadinya Sick Building Syndrome pada pekerja serta dampak yang ditimbulkan dari kejadian SBS pada pekerja ini juga dapat memengaruhi kondisi dari perusahaan tersebut, maka diperlukan suatu pengendalian dan pencegahan yang efektif untuk mengatasi SBS pada pekerja.

Pada seminar yang dihadiri oleh peserta dari segala bidang keahlian ini, Tim Peneliti dari Semprof K3 2022 juga menyampaikan hasil penelitiannya yang berjudul “Gambaran Keluhan Sick Building Syndrome (SBS) dan Faktor Risikonya pada Pekerja Perkantoran di Tahun 2022” Kesimpulan dari penelitian ini adalah sebesar 85,3% pekerja mengalami keluhan SBS dengan gejala terbanyak yakni kurang konsentrasi sebesar 17,5%. Pada faktor personal, Keluhan SBS lebih banyak dirasakan pada kelompok pekerja wanita (85,7%), pekerja dengan usia < 30 tahun (87%), pekerja dengan masa kerja < 5 Tahun (88,4%), dan pekerja dengan lama kerja < 80% berada dalam ruangan/hari (87,3%), pekerja dengan paparan rokok (89,8%) dan riwayat penyakit yang paling banyak diderita yaitu pilek dalam 1 tahun terakhir. Pada faktor lingkungan kerja, variabel persepsi suhu, kebersihan, pencahayaan, dan kualitas udara responden sudah baik, hanya persepsi terhadap kebisingan yang cenderung buruk. Meskipun begitu, distribusi keluhan SBS menunjukkan bahwa persepsi lingkungan kerja yang buruk mempunyai prevalensi yang lebih tinggi terhadap keluhan SBS. Pada faktor psikososial, pekerja memiliki persepsi baik (88%) dan buruk (12%), dengan distribusi terhadap stress kerja yaitu persepsi buruk (50%) dan persepsi baik (50,8%). Pada faktor stres kerja, diketahui pekerja yang mengalami stres kerja sebesar 50,7% dengan diantaranya pekerja yang mengalami stres kerja dan SBS sebanyak 84,2%. (SR/zr)