Berita Fikes Online- Setiap program studi harus mengupayakan agar lulusannya memilki 21st century skills, yaitu berpikir kristis, komunikasi, kreativitas dan kolaborasi. Mata kuliah dalam bentuk praktikum harus bisa memfasilitasi untuk mencapai ketrampilan tersebut, sehingga penting untuk mengembangkan modul praktikum dengan baik, efektif dan terarah. Hal ini disampaikan oleh Fitri Khoerunnisa, Ph.D, selaku narasumber  Workshop Pengembangan Modul Praktikum Program Studi Kesehatan Masyarakat, Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES), UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang diselenggarakan pada hari Kamis, (24/2/2022).

Lebih lanjut Fitri juga menyampaikan, bahwa praktikum merupakan aktivitas terstruktur  sehingga penting untuk patuh pada aturan scientific method, mulai dari memetakan masalah, bagaimana masalah bisa diselesaikan, dengan mengumpulkan data dan investigasi, lalu di generate untuk mendapatkan solusi dari masalah yang diangkat. Mata kuliah praktikum bisa berupa satu mata kuliah tersendiri, atau juga tergabung pada mata kuliah teori. Sehingga perlu dikembangkan modul yang sesuai dengan mata kuliah tersebut.

Modul praktikum merupakan guidence langkah pembelajaran, dimana langkah awal dalam mengembangkan modul praktikum perlu mengacu pada PLO (programme Learning Outcome), CPL (Capaian Pembelajaran Lulusan), lalu diturunkan kepada CPM (Capaian Pembelajaran Mata kuliah), menyusun RPS/Silabi, mengembangkan modul, memvalidasi modul, uji coba, dan di akhir siap untuk dilaksanakan praktikum.

Bidang Kesehatan Masyarakat yang banyak melakukan praktikum pada community based juga termasuk dalam konteks laboratorium, sehingga ketika melakukan pengembangan modul praktikum secara prosedur untuk komunitas dibuat lebih fleksibel.

Tantangan juga muncul saat masa pandemi covid-19. Dengan sistem kuliah praktikum online saat ini, Fitri menggambarkan contoh ketika tujuan praktikum memberikan pengalaman praktik pada mahasiswa dapat disiasati dengan memutarkan video secara virtual yang dirujuk pada sumber berkualitas, seperti video dari NUS, Harvard, dan lain sebagainya. Sehingga mahasiswa untuk mendapatkan pengalaman melakukan eksperimen, menjadi pilihan terbaik dengan metode demonstrasi. Kuncinya fleksibel dan dinamis untuk menganilis kebutuhan.

Acara yang dilakukan secara daring dan dihadiri oleh 21 Dosen Prodi Kesehatan Masyarakat (Kesmas) FIKES UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini merupakan langkah awal dalam pembaharuan modul praktikum yang akan digunakan dalam proses belajar mengajar. Dengan demikian mengembangkan modul harus dengan asas kepentingan prodi, untuk mengembangkan kurikulum dan mencapai akreditasi yang terbaik.

Pada akhir diskusi Fitri menutup penjelasan dengan memberikan strategi akhir untuk mengembangkan modul praktikum dengan efektif, yaitu mengenali mata kuliah dengan melakukan diskusi peer review dengan rekan rumpun sebidang, menentukan bahan kajiannya apa saja, aspek faslitas, waktu dan lain sebagainya juga perlu menjadi konsideran untuk menentukan bentuk praktikum yang tepat sesuai kebutuhan. (zr)