Open House Magister Kesmas UIN Jakarta  Hadirkan Webinar “No Means No”: Membangun Safe Space dari Kekerasan Seksual
Open House Magister Kesmas UIN Jakarta Hadirkan Webinar “No Means No”: Membangun Safe Space dari Kekerasan Seksual

Berita FIKES Online,- Program Studi Magister Kesehatan Masyarakat UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menyelenggarakan webinar bertema “No Means No: Membangun Safe Space dari Kekerasan Seksual” sekaligus sosialisasi Magister Prodi Kesehatan Masyarakat Fakultas Ilmu Kesehatan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Acara diselenggarakan pada hari Jumat, 29 Mei 2026 pada pukul 09.30–11.00 WIB secara virtual. Acara ini menjadi bagian dari komitmen program studi untuk melakukan sosialisasi dalam meningkatkan literasi, kesadaran, dan kepedulian sivitas akademika serta masyarakat umum terhadap isu kekerasan seksual.

Webinar ini mengangkat frasa “No Means No” yang menegaskan pentingnya persetujuan, batas personal, serta penghormatan terhadap hak individu atas tubuh dan keputusannya. Melalui kegiatan ini, peserta diajak untuk memahami bahwa kekerasan seksual bukan hanya persoalan individu, tetapi juga isu sosial dan kesehatan masyarakat yang memerlukan perhatian serius, dan pencegahan yang sistematis.

Kegiatan diawali dengan pembukaan oleh moderator, dilanjutkan dengan sambutan dan penyampaian sosialisasi untuk mengenal lebih dekat tentang Prodi Magister Kesehatan Masyarakat Fikes UIN Jakarta yang disampaikan oleh Ketua Program Studi Magister Fajar Ariyanti, M.Kes, PhD. Ketua Program Studi turut menyampaikan bahwa pendaftaran untuk Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB) pada jenjang Magister  masih dibuka hingga 19 Juli 2026.

WhatsApp Image 2026-07-03 at 14.04.04 WhatsApp Image 2026-07-03 at 14.04.04 (1)

Pada sesi inti kegiatan, narasumber kedua Narila Mutia Nasir, PhD selaku ahli kesehatan reproduksi yang juga merupakan dosen pada Prodi Magister Kesehatan Masyarakat, menyampaikan materi mengenai konsep kekerasan seksual, pentingnya consent, bentuk-bentuk kekerasan seksual, serta dampak kekerasan seksual terhadap korban. Kekerasan seksual dapat terjadi dalam berbagai bentuk, mulai dari ucapan bernuansa seksual yang tidak diinginkan, sentuhan tanpa persetujuan, pelecehan berbasis digital, intimidasi, hingga pemaksaan relasi seksual. Narasumber juga menekankan bahwa kekerasan seksual sering kali meninggalkan dampak panjang baik secara fisik, psikologis, sosial, akademik, maupun profesional.

Salah satu poin penting yang disampaikan adalah perlunya membangun safe space atau ruang aman. Ruang aman tidak hanya berarti tempat yang bebas dari kekerasan, tetapi juga lingkungan yang memungkinkan korban merasa didengar, dipercaya, dilindungi, dan tidak disalahkan. Dalam konteks kampus, safe space dapat diwujudkan melalui budaya komunikasi yang sehat, mekanisme pelaporan yang jelas, pendampingan korban, perlindungan kerahasiaan, serta sikap aktif seluruh warga kampus dalam mencegah kekerasan seksual.

Webinar berlangsung secara interaktif. Peserta menunjukkan antusiasme melalui pertanyaan dan tanggapan, terutama terkait cara mengenali bentuk kekerasan seksual, langkah yang harus dilakukan ketika menjadi saksi atau korban, serta bagaimana membangun budaya anti-kekerasan di lingkungan kampus dan masyarakat dan khususnya dikalangan akademisi. Diskusi juga menyoroti pentingnya menghentikan praktik victim blaming, memperkuat literasi digital, serta mendorong keberanian kolektif untuk menciptakan lingkungan yang berpihak pada korban.

Melalui kegiatan ini, peserta memperoleh pemahaman bahwa pencegahan kekerasan seksual membutuhkan keterlibatan semua pihak. Edukasi mengenai consent, penghormatan terhadap batas personal, serta keberanian untuk menolak dan melaporkan kekerasan perlu terus diperkuat. Webinar ini juga menjadi pengingat bahwa menciptakan ruang aman bukan hanya tanggung jawab institusi, tetapi juga tanggung jawab bersama sebagai bagian dari masyarakat akademik dan sosial.

Kegiatan ditutup dengan penyampaian kesimpulan oleh moderator. Secara umum, webinar berjalan lancar, tertib, dan mendapat respons positif dari peserta. Program Studi Magister Kesehatan Masyarakat UIN Syarif Hidayatullah Jakarta berharap kegiatan ini dapat menjadi langkah awal dalam memperkuat kesadaran dan gerakan bersama untuk membangun lingkungan yang aman, inklusif, serta bebas dari kekerasan seksual. (SRHL)